drama tentang pendidikan

Contoh Naskah Drama Terbaik tentang Pendidikan Karakter untuk 6 Orang

Diposting pada

Drama Tentang PendidikanCerdasPintar.com ~ Drama adalah sebuah bentuk karya sastra yang di dalamnya berisi dialog yang diperankan oleh para tokoh dan dipadukan dengan mimik atau ekspresi dan gerak. Drama tentang pendidikan merupakan suatu bentuk karya pementasan yang membutuhkan skill seni peran dari para tokohnya.

Apakah kalian tahu apa yang dimaksud dengan drama tentang pendidikan? Okey,  mari kita artikan bersama-sama! Drama tentang pendidikan merupakan cerita yang diperagakan oleh para tokoh yang bertema pendidikan di panggung dan berdasarkan sebuah naskah. Sehingga naskah drama berperan penting dalam pementasan drama karena sebagai acuan bagi tokoh drama dalam memerankan karakter yang diperankan.

Dialog dalam drama berisi kalimat-kalimat konflik yang diperankan oleh tokoh drama. Tokoh drama memerankan perannya disertai dengan ekspresi dan gerak yang disesuaikan dengan karakternya masing-masing. Naskah drama ini dilengkapi sebuah petunjuk tertentu yang harus dilakukan oleh tokoh pemeran yang bersangkutan. Petunjuk tersebut ditulis dalam tanda kurung, atau dengan memakai jenis huruf yang berbeda dengan huruf pada dialog.

Dalam menyusun naskah drama harus mengandung amanat yang merupakan pesan yang disampaikan dari pengarang cerita drama tersebut kepada penonton. Amanat drama dapat disampaikan melalui peran para tokoh drama tersebut. Naskah drama tentang pendidikan harus memuat pesan moral yang  mengajak penonton untuk menerapkan karakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh Naskah Drama Terbaik tentang Pendidikan Karakter untuk 6 Orang

Berikut adalah contoh naskah drama tentang pendidikan untuk 6 orang dan untuk 4 orang. Mari kita simak bersama!

1. Contoh Naskah Drama tentang Pendidikan untuk 6 orang

Judul Drama : Harapan di Persimpangan Jalan
Tema               : Pendidikan
Pemeran        : Anton, Bobi, Ibu Guru Dewi, Bapak  Arman, Wakasek Kesiswaan , Pak Parmin, Bu Parmin

Suatu pagi pada jam istirahat pertama di SMA Negeri 1 Tulungagung. Anton termenung di salah satu meja baca perpustakaan. Ia tak menyadari bahwa kegelisahannya tersebut sejak tadi telah diperhatikan oleh sahabatnya Bobi.

Bobi                :    Hei, kamu ini masih pagi sudah melamun saja.

Anton             :    Kamu mengagetkanku tahu! Kalau jantungku copot bagaimana? Kamu mau ganti?

Bobi                :    He… he. Maaf, maaf!

Anton              :    Ada apa Bob?

Bobi                :    Tidak apa-apa. Aku pikir kamu kemana tadi. Aku mencari-cari kamu.

Anton              :    He…he. Kemana lagi aku kalau tidak ke mushala atau perpustakaan. Mau ke kantin, aku tidak punya uang. He… he.

Bobi                :    Justru itu, mudah sekali kalau aku mau mencarimu kawan. Oh ya, ngomong-ngomong rencanamu setelah lulus apa? Pasti kamu mau mengambil jurusan Teknik Mesin UB (Universitas Brawijaya) kan?  Sejak dulu kamu kan ingin bisa berkuliah di jurusan itu.

Anton              :   Entahlah Bob.

Bobi                :    Loh, kok entahlah. Ada apa ini kawan? Bukankah kamu bercita-cita untuk menjadi insinyur mesin?

Anton              :    Ya, memang  Tapi entahlah Bob.

Bobi                :    Ada apa ini kawan? Ada masalah apa sebenarnya? Ayo ceritakan padaku!

Anton              :    Tentang mimpi-mimpiku itu , rasanya aku tak dapat terus memupuknya.Orang tuaku tidak setuju aku melanjutkan pendidikan tinggi. Mereka ingin aku bekerja sebagai TKI saja.

Bobi                :    Wah, rumit juga ya. Kamu ceritakan semua detailnya ya! Nanti kita cari solusi bersama-sama.

Setelah menceritakan semua permasalahannya, Anton agak sedikit lega. Ia bisa mengurangi kegalauan dihatinya karena telah bercerita dengan sahabatnya itu.

Bobi                :    Begini saja Ton, kita konsultasikan masalahmu ini kepada Bu Dewi. Semoga beliau punya masukan terbaik yang bisa membantu semua persoalanmu itu.

Anton              :    Baiklah, jam istirahat kedua setelah shalat dhuhur saja ya Bob. Waktu istirahat pertama kita sudah mulai habis ini.

Bobi                :    Baiklah, ayo kita masuk ke kelas!

Bobi dan Anton pun akhirnya menuju kelas mereka. Setelah jam istirahat kedua selepas shalat dhuhur, mereka berdua pergi menuju ruang Bu Dewi yang merupakan guru Bimbingan Konseling di kelas mereka.

Bobi                :    Assalamualaikum. (seraya mengetuk pintu ruangan)

Bu Dewi         :    Wa’alaikumsalam. Wr. Wb. Silahkan masuk!

Bobi                :    Terima kasih bu. Ayo Anton, kita masuk!

Anton              :    Iya. Selamat siang bu.

Bu Dewi         :    Bobi, Anton, ada apa ini? Apa ada yang mau kalian diskusikan kepada ibu?

Bobi                :    Oh iya bu, ada sesuatu hal penting yang ingin kami diskusikan. Kami yakin akan dapat menemukan solusi terbaik jika masalah ini kami sampaikan kepada ibu Dewi.

Bu Dewi         : Baiklah Bob, ceritakanlah masalahmu itu pada ibu! Barangkali ibu bisa membantu.

Bobi                :    Ini bukan tentang saya bu, tapi Anton. Ton, ceritakanlah masalahmu itu!

Anton              :    Baiklah.

Setelah menceritakan semua masalah Anton kepada bu Dewi. Akhirnya Bu Dewi memutuskan untuk membawa persoalan ini ke Bapak Arman, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.

Bu Dewi         :    Nah, begitu saja ya. Kapan kita menemui pak Arman?

Anton              :    Lebih cepat lebih baik bu.

Bobi                :    Betul bu, secepatnya saja. Bagaimana kalo sekarang saja?Waktu istirahat kan masih 15 menit lagi.

Ibu Dewi         :    Baiklah, kalau begitu kita ke sana sekarang saja!

Anton dan  Bobi  : Mari bu!

Bu Dewi, Anton dan Bobi bersama-sama menuju ke ruangan Pak Arman. Sesampainya di depan ruangan Pak Arman Bu Dewi mengetuk pintu.

Bu Dewi         :    Assalamu’alaikum!

Pak Arman      :    Wa’alaikum salam Wr. Wb. Masuklah!

Pak Arman mempersilahkan mereka bertiga untuk duduk.

Bu Dewi         : Terima kasih, Pak! Begini Pak. Anton menceritakan masalahnya kepada saya. Dia bimbang mau melanjutkan sekolah ke mana setelah lulus dari sekolah ini. Orang tuanya menginginkan Anton untuk tidak melanjutkan ke perguruan tinggi karena mereka ingin Anton bekerja sebagai TKI.

Pak Arman      :    Anton, mengapa orang tuamu memintamu untuk menjadi TKI setelah lulus dari sekolah ini? Apakah karena biaya sekolah atau karena masalah yang lain?

Anton              :    Alasan mereka melarang saya melanjutkan ke perguruan tinggi karena mereka beranggapan kuliah hanya akan buang-buang uang saja, lebih baik menjadi TKI dan cepat mendapatkan uang.

Pak Arman      :    Ooo…begitu. Apakah kamu sudah memberikan pengertian kepada orang tuamu bahwa pendidikan  itu penting. Kalau kamu bersungguh-sungguh dalam menempuh pendidikan tinggi, Insyaalloh kamu akan mendapatkan ilmu dan juga kesempatan bekerja yang lebih baik.

Anton            : Sudah Pak! Tapi mereka punya pendapat sendiri dan saya sulit untuk meyakinkan mereka.

Pak Arman      :    Kalau begitu, apakah bisa besok pagi saya bertemu orang tuamu?

Anton              :    Insyaalloh, bisa Pak!

Bu Dewi         :    Terima kasih Pak! Kami mohon diri.

Bu Dewi, Anton dan Bobi bersama-sama meninggalkan ruangan Pak Arman. Keesokan harinya Pak Parmin dan Bu Parmin, orang tua Anton datang ke ruangan Arman.

Pak Parmin      :    Assalamu’alaikum!

Pak Arman      :    Wa’alaikum salam Wr. Wb. Silahkan duduk! Ada yang bisa saya bantu, Bapak?

Pak Parmin      :    Kami orang tua Anton. Kami tidak ingin Anton kuliah karena menurut kami akan buang-buang uang saja.

Bu Parmin       :    Ya benar Pak, kuliah itu biayanya sangat banyak dan setelah lulus pun belum tentu akan langsung mendapatkan pekerjaan. Lebih baik Anton jadi TKI , kan cepat dapat uang.

Pak Arman      :    Begini Pak, Bu! Memang menjadi TKI itu banyak dipilih orang supaya cepat mendapatkan uang setelah lulus sekolah, namun yang perlu Bapak ,Ibu berdua ketahui bahwa melanjutkan ke sekolah tinggi itu penting. Karena dalam hidup itu kita perlu ilmu dan pengalaman yang luas dalam menghadapi tantangan di masa yang akan datang. Apalagi Anton termasuk siswa berprestasi di sekolah. Sangat disayangkan  kalau ia tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Di perguruan tinggi  itu banyak terdapat beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa berprestasi maupun beasiswa dari keluarga kurang mampu. Saya yakin Anton dengan dukungan orang tua akan dapat sukses dalam pendidikan dan kariernya karena ia anak yang cerdas dan tekun.

Pak Parmin      :    Terima kasih atas penjelasannya, Pak. Sekarang kami menyadari bahwa memang Anton harus melanjutkan ke perguruan tinggi dan kami akan mendukung sepenuhnya.

Bu Parmin       :    Kami mohon diri, dan sekali lagi terima kasih Pak!

Pak Arman      :    Sama-sama Pak , Bu!

Mereka berjabat tangan dan meninggalkan ruangan Pak Arman. Sesampainya di rumah mereka berdua berjanji akan mendukung sepenuhnya keinginan Anton. Anton yang mendengar berita itu dari Pak Arman, sangat senang dan terharu akhirnya keinginannya direstui kedua orang tuanya.

2. Contoh Naskah Drama tentang Pendidikan untuk 4 orang

Judul: Sahabat Sejati

Tema: Persahabatan

Pemain: Nia, Lita, Desi, Andi

Sinopsi drama: Sepulang sekolah, Nia, Lita, Desi, dan Andi berkumpul di rumah Andi untuk menyelesaikan tugas sekolah. Mereka mengerjakan tugas kelompok di ruang tamu dan ditemani beberapa cemilan dan minuman dingin. Namun, ada yang berbeda dari biasanya. Nia yang biasanya periang dan banyak bicara, hari ini tampak lebih banyak diam dan murung.

Dialog :

Andi: Hei Nia, kamu kok melamun terus, sih? Biasanya paling cerewet.

Lita: Iya, nih. Kamu kenapa? Dari semalam murung terus. Kalau ada masalah cerita dong sama kita. Kita kan sahabat untuk selamanya.

Desi: Betul betul betul. Hehehe.

Nia: Ih, apaan sih. Gak ada apa-apa, lho. Biasa aja, tau.

Lita: Nanti kalau kami ada masalah, kami juga gak mau bilang, ah.

Desi: Kita gak dianggap, sih. Huh.

Andi: Ayolah, Nia. Kalau ada masalah kami pasti bantu. Kita kan sudah bertahun-tahun bersahabat.

Nia: Hmm, sebenarnya…

Lita: Sebenarnya apa?

Nia: Aku belum bayar uang sekolah 3 bulan. Sedangkan orang tuaku sedang kesulitan juga karena panen tahun ini jelek terus. Jadi sepertinya aku tidak bisa ikut ujian nanti.

Andi: Wooo… Jadi masalah seperti ini yang kamu sembunyikan dari kami? Ckckck, kami pasti bantu kamu, Nia. Ya ampun.

Desi: Nia, Nia. Kami kira ada masalah apa. Kalau yang begini pasti kami bisa bantu. Ya, kan Lita?

Lita: Yoyoy. Kita kan sahabat sejati.

Desi: Betul betul betul. Hehehe.

Nia: Terima kasih, ya semuanya. Aku jadi terharu.

Baca juga:

Demikian ulasan mengenai contoh naskah drama tentang pendidikan untuk 6 orang dan untuk 4 orang. Semoga bermanfaat buat teman-teman yang sedang mencari referensi naskah drama. Jangan lupa share pengalamanmu juga di kolom komentar. [HT/BS]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *